Rahasia Anak Cerdas Sejak Dalam Kandungan Terungkap, Wamen BKKBN Beberkan Kuncinya!
Ilustrasi-Foto: Setpres-
Jakarta, Disway.id - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes, menekankan bahwa kualitas pengasuhan bertumpu pada hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak. Ia menyebut, komunikasi yang hangat serta empatik sejak awal kehidupan menjadi perlindungan utama bagi anak dari berbagai ancaman, sekaligus dasar penting dalam membangun kecerdasan.
Pesan itu disampaikan Isyana saat memberikan arahan secara daring dalam kegiatan TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak) pada KERABAT Seri 1 Tahun 2026 yang mengangkat tema “Stimulasi Sejak Dini: Rahasia Mengoptimalkan Kecerdasan Anak Sejak dalam Kandungan”. Dalam kesempatan tersebut, ia menggarisbawahi pentingnya menghadirkan rasa aman, membangun kepercayaan diri anak, serta memahami setiap fase pertumbuhan sebagai bagian dari pola asuh yang sadar dan penuh tanggung jawab.
"Pengasuhan tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik. Kesiapan emosional orang tua dalam mendampingi anak sejak awal kehidupan berperan besar dalam mengoptimalkan kecerdasan anak," jelas Isyana.
Pendapat tersebut sejalan dengan pandangan dokter spesialis anak, DR. dr. Fitri Hartanto, Sp.A (K). Ia menerangkan bahwa kecerdasan termasuk dalam ranah kemampuan kognitif yang mencakup working memory, cognitive flexibility, dan inhibitory control. Ketiga komponen ini berkembang secara bertahap sejak usia dini dan sangat dipengaruhi oleh pola asuh serta mutu interaksi anak dengan lingkungan terdekatnya.
Fitri juga menyoroti bahwa peran lingkungan sudah dimulai bahkan sebelum anak dilahirkan, terutama lewat kedekatan emosional orang tua selama masa kehamilan.
"Interaksi sederhana seperti mengusap perut ibu, berbicara dengan penuh kasih, dan menciptakan rasa aman dapat memicu hormon endorfin yang mendukung perkembangan otak anak sejak dalam kandungan," papr dia.
Setelah kelahiran, suasana yang hangat dan responsif tetap menjadi faktor penentu. Untuk mendukung tumbuh kembang optimal, Fitri menekankan keseimbangan pemenuhan kebutuhan dasar melalui prinsip asih, asuh, dan asah. Asuh berkaitan dengan pemenuhan aspek bio-psiko-sosial seperti gizi, imunisasi, serta lingkungan aman. Asih diwujudkan melalui kasih sayang dan interaksi positif. Sedangkan asah dilakukan lewat stimulasi berkelanjutan, dukungan emosional, serta penanaman rasa aman dan rasa memiliki.
Senada dengan itu, Isyana kembali mengingatkan bahwa pengasuhan yang dilakukan dengan ketulusan hati merupakan fondasi pembangunan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Ia mendorong orang tua untuk membangun komunikasi terbuka, menghadirkan rasa aman agar anak berani menyampaikan perasaan, serta tidak segan mencari bantuan tenaga profesional bila diperlukan.
"Berkonsultasi dengan Tim Pendamping Keluarga, tenaga kesehatan, dokter, atau para ahli adalah bagian dari tanggung jawab dan wujud kasih sayang orang tua. Deteksi dan intervensi dini adalah investasi nyata bagi masa depan anak," pungkasnya.
Sumber: