Azis Subekti: Indonesia Perlu Membaca Kondisi Ekonomi Secara Utuh, Bukan Terjebak Optimisme atau Pesimisme Ber

Azis Subekti: Indonesia Perlu Membaca Kondisi Ekonomi Secara Utuh, Bukan Terjebak Optimisme atau Pesimisme Ber

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti.-Foto: Dok Pribadi-

Jakarta, Disway.id - Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini bukan semata persoalan ekonomi, melainkan cara bangsa ini memahami dan membaca kondisi dirinya sendiri di tengah dinamika global yang terus berubah. Perdebatan mengenai kondisi ekonomi nasional sering kali terjebak pada dua pandangan yang sama-sama tidak utuh.

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengatakan, di satu sisi, ada kelompok yang menganggap setiap pelemahan rupiah atau koreksi pasar saham sebagai pertanda krisis. Di sisi lain, ada yang menilai kondisi ekonomi sepenuhnya baik hanya karena sejumlah indikator makro masih menunjukkan kinerja positif.

“Ada sesuatu yang menarik dalam cara bangsa Indonesia membaca keadaan ekonominya sendiri,” ujar Azis, Sabtu (13/6/2026).

Ia mencontohkan, ketika nilai tukar rupiah melemah beberapa persen, sebagian pihak langsung berasumsi Indonesia berada di ambang krisis. Begitu pula saat pasar saham mengalami koreksi, muncul anggapan bahwa investor telah kehilangan kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Namun pada saat yang sama, lanjut Azis, sejumlah indikator fundamental ekonomi justru masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5 persen, neraca perdagangan masih mencatat surplus, investasi terus mengalir, serta berbagai proyek strategis nasional tetap berjalan.

“Padahal keduanya sedang melakukan kesalahan yang sama. Mereka sama-sama membaca Indonesia secara parsial,” katanya.

Azis menilai kondisi tersebut terjadi karena masyarakat hidup di era ketika arus informasi bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan memahami konteks secara menyeluruh. Akibatnya, persepsi publik sering dibentuk oleh potongan data atau informasi yang berdiri sendiri.

“Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada pemahaman,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan tidak akan lahir dari optimisme yang membutakan maupun pesimisme yang melumpuhkan. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk melihat realitas secara objektif berdasarkan data dan fakta.

Ia menyoroti bahwa ekonomi Indonesia masih tumbuh lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan global. Inflasi terkendali, defisit fiskal berada dalam batas aman, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) relatif rendah, cadangan devisa kuat, serta status investasi Indonesia masih berada pada kategori investment grade.

Meski demikian, Azis mengakui terdapat sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Rupiah mengalami tekanan, IHSG terkoreksi, sebagian sektor usaha melambat, daya beli kelompok menengah lebih berhati-hati, biaya logistik masih tinggi, serta produktivitas nasional belum meningkat sesuai kebutuhan.

“Lalu mana yang benar? Semuanya benar. Itulah persoalannya,” kata Azis.

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dibanding narasi yang berkembang di ruang publik. Menurutnya, tekanan yang terjadi tidak seluruhnya berasal dari faktor domestik karena hampir seluruh negara berkembang menghadapi situasi serupa akibat perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga internasional, hingga pergerakan modal yang semakin cepat.

“Kita terlalu sering melihat Indonesia seolah-olah berdiri sendirian di dunia. Seolah setiap gejolak yang terjadi pasti merupakan akibat dari kesalahan Indonesia sendiri. Padahal kenyataannya tidak demikian,” ujarnya.

Sumber: