Prabowo Bandingkan MBG dengan Triliunan Kekayaan Negara yang Menguap
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konsolidasi Nasional Program MBG yang digelar oleh Badan Gizi Nasional di SICC, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026).-Foto: Bakom RI-
Jakarta, Disway.id - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan minimnya perhatian publik terhadap hilangnya kekayaan negara yang disebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Menurutnya, persoalan tersebut semestinya mendapat sorotan yang sama besarnya seperti berbagai program pemerintah yang saat ini menuai kritik.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Senin (20/7/2026).
“Ribuan triliun yang menguap, yang pergi dari bumi Indonesia, tiap tahun selama 34 tahun tidak ada komentar, tidak ada pakar yang protes, tidak ada investigasi,” ujar Prabowo.
Di sisi lain, Prabowo menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi bagi masyarakat justru menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak.
"Saudara-saudara, saya diserang karena ingin memberi makan bergizi untuk anak-anak Indonesia, untuk ibu-ibu hamil, untuk orang-orang lansia dianggap pemborosan,” katanya.
Prabowo kembali menegaskan bahwa MBG merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi persoalan gizi, termasuk tingginya angka stunting yang masih dialami anak-anak Indonesia.
"Kita mau beri makan kepada anak-anak yang jelas-jelas minimal seperempat anak-anak kita stunting, sebagian besar juga banyak yang tidak makan. Kita dituduh pemborosan, kita dibilang ekonomi mau kolaps, harga saham akan ambruk, mata uang akan melemah. Alasannya karena boros,” ucapnya.
Menurut Prabowo, perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada perdebatan mengenai program pemerintah, tetapi juga pada persoalan-persoalan mendasar yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan stabilitas harga pangan, ketersediaan pupuk bagi petani, serta pemenuhan gizi anak-anak sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
"Kita bertanya sekarang apakah harga pangan terkendali, apakah pupuk tersedia untuk rakyat, untuk petani dan harganya terjangkau, apakah anak-anak sekolah memperoleh makanan bergizi di sekolah,” tutupnya.
Sumber: