Sulteng Gandeng Unisa Palu Cari Solusi Penyakit Bangkalan Durian

Sulteng Gandeng Unisa Palu Cari Solusi Penyakit Bangkalan Durian

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid.-Foto: sultengprov.go.id-

Palu, Disway.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) menggandeng akademisi Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu untuk melakukan riset terkait penyakit bangkalan yang menyerang buah durian.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengatakan, penyakit tersebut masih menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi petani durian karena hingga kini belum tersedia obat yang benar-benar efektif untuk mengatasinya.

"Bangkalan menjadi momok bagi petani durian, hingga kini belum ada obat-obatan mengatasi penyakit itu. Harapan kami adanya kerja sama riset antara Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulteng bersama Unisa Palu dapat menciptakan penangkal penyakit buah tersebut," kata Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dalam acara Merdeka Ekspor Durian Sulawesi Tengah 2026 di Palu, dilansir Antara, Jumat (14/8/2026).

Menurut Anwar, serangan penyakit bangkalan dapat menurunkan kualitas buah durian. Sementara menunggu hasil penelitian, petani masih mengandalkan sejumlah langkah pencegahan, seperti menjaga kebersihan kebun, mengatur kelembapan, memberikan pupuk secara berimbang, serta menggunakan fungisida dan biopestisida secara rutin.

Ia menyebut persoalan penyakit bangkalan menjadi salah satu keluhan utama petani yang disampaikan kepada pemerintah daerah. Karena itu, Pemprov Sulteng berupaya mencari solusi melalui kolaborasi riset dengan perguruan tinggi.

"Kami berupaya mencari solusi mengatasi model penyakit buah tersebut, karena prospek pasar durian saat ini di luar negeri terutama China sangat menjanjikan, maka produksi di daerah harus ditopang dengan penerapan protokol ekspor," ujar dia.

Anwar menilai peluang pasar ekspor durian masih sangat terbuka, khususnya ke China. Kondisi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas dan produktivitas durian dari tingkat petani hingga proses hilirisasi.

Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng, luas perkebunan durian di provinsi tersebut mencapai sekitar 36 ribu hektare. Dari jumlah itu, sekitar 12 ribu hektare telah memasuki masa produksi.

Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat potensi produksi durian Sulteng mencapai 95.140 ton yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Kabupaten Poso dan Parigi Moutong menjadi dua daerah dengan sentra produksi durian terbesar.

"Itu artinya potensi komoditas hortikultura itu sangat besar. Maka melalui program berani panen, Pemprov Sulteng terus berupaya memaksimalkan tata kelola hilirisasi pertanian supaya memiliki nilai yang lebih untuk membantu menunjang pertumbuhan ekonomi daerah," ujar dia.

Kerja sama penelitian mengenai penyakit bangkalan tersebut secara resmi ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara pejabat Dinas TPH Sulteng dan pihak Unisa Palu dalam rangkaian kegiatan Merdeka Ekspor Sulteng 2026.

Anwar juga mengingatkan petani agar tidak hanya mengejar kuantitas produksi, tetapi memperhatikan kualitas buah. Hal itu penting karena pasar ekspor memiliki standar mutu yang harus dipenuhi.

"Kami juga segera mengatur regulasi khusus untuk durian, termasuk rekayasa musim panen supaya terus berkelanjutan," kata Anwar.

Sumber: