Kampus di Sulteng Diminta Aktif Perangi TB dan Masalah Sosial
Penanganan tuberkulosis (TB).-Foto: Ilustrasi, Disway Group-
Palu, Disway.id – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong perguruan tinggi di Sulawesi Tengah memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menangani berbagai persoalan kesehatan dan sosial.
Salah satu perhatian utama adalah penanggulangan tuberkulosis (TB), selain persoalan stunting, kemiskinan, dan pengangguran yang dinilai membutuhkan penanganan lintas sektor.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan kondisi TB di Sulawesi Tengah perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya oleh sektor kesehatan.
"Jadi Sulawesi Tengah saat ini menghadapi tantangan seperti gejala tuberkulosis yang dinilai masif, sehingga ini perlu menjadi prioritas termasuk penanganan stunting, kemiskinan, hingga pengangguran yang membutuhkan intervensi bersama," kata Fauzan di Palu, Sabtu (22/8/2026).
Ia menilai kompleksitas persoalan di daerah membutuhkan kolaborasi antara kebijakan pemerintah, kekuatan masyarakat, serta kemampuan akademik yang dimiliki perguruan tinggi.
"Saya kira kita semuanya siap untuk bergandengan tangan menyelesaikan problem-problem yang ada di wilayah Sulawesi Tengah ini," ujarnya.
Fauzan menekankan perguruan tinggi tidak seharusnya hanya berfokus pada kegiatan akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di sekitarnya.
"Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial bukan hanya sekadar tanggung jawab akademis," katanya.
Menurut dia, kampus dapat membantu pemerintah daerah merumuskan berbagai solusi berdasarkan hasil penelitian sekaligus menjalankan program pengabdian kepada masyarakat.
"Kampus adalah tempat manusia-manusia unggul. Kampus merupakan satu ekosistem yang dihuni oleh masyarakat akademis, masyarakat pintar dan masyarakat cendekia," tutur Fauzan.
Ia menilai keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dapat dilihat dari capaian akademiknya, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Dalam penanganan TB, sebanyak tujuh perguruan tinggi negeri dan swasta di Sulawesi Tengah telah terlibat dalam kolaborasi. Perguruan tinggi tersebut yakni Universitas Tadulako, Universitas Alkhairat, Universitas Tompotika Luwuk, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Widya Nusantara, Poltekkes, dan STIK Indonesia Jaya.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan, seperti RS Untad, Laboratorium Kesehatan Daerah Sulawesi Tengah, puskesmas, serta pemerintah daerah.
Berdasarkan data pemerintah pusat, penemuan kasus TB di Sulawesi Tengah masih menunjukkan adanya kesenjangan dalam mendeteksi kasus di tengah masyarakat.
Sumber: