Angin Kencang Picu Karhutla, 50 Hektare Lahan Poso Hangus

Angin Kencang Picu Karhutla, 50 Hektare Lahan Poso Hangus

Dua personel BPBD Sulteng tengah berusaha memadamkan api yang membakar hutan dan lahan.-Foto: ANTARA/HO-Humas BPBD Sulteng-

Poso, Disway.idKebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Desa Pasir Putih, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Hingga Minggu (13/9/2026), api belum sepenuhnya berhasil dikendalikan dan telah membakar sekitar 50 hektare lahan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah Asbudianto mengatakan luasan lahan yang terdampak terdiri atas sekitar 20 hektare perkebunan warga dan 30 hektare lahan gambut.

Kebakaran mulai terjadi pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 16.00 WITA. Kondisi angin yang cukup kencang membuat kobaran api cepat menjalar dan mengarah ke kawasan permukiman serta fasilitas pendidikan.

"Api dengan cepat merambat hingga ke area pemukiman warga serta fasilitas sekolah," ungkap Asbudianto dalam keterangannya di Palu, dilansir dari Antara, Senin (14/9/2026).

Salah satu fasilitas pendidikan yang terdampak adalah SMA 1 Pamona Selatan. Api yang terus meluas membuat kawasan di sekitar sekolah ikut terkena dampak kebakaran.

Dua Petugas Pemadam Terdampak

Dalam proses penanganan, dua anggota pemadam kebakaran dilaporkan turut terdampak. Meski demikian, berdasarkan laporan sementara belum ada warga yang harus mengungsi akibat karhutla tersebut.

Upaya penanganan dilakukan secara bersama-sama oleh tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, Damkar, Manggala Agni, serta masyarakat setempat.

Tim di lapangan melakukan asesmen, berkoordinasi dengan aparat wilayah dan melanjutkan upaya pemadaman untuk mencegah api semakin meluas.

Sejumlah peralatan juga masih dibutuhkan untuk mendukung penanganan karhutla. Kebutuhan mendesak di lokasi antara lain tangki air, selang pemadam, mesin pemadam, tandon air, serta mobil tangki air.

Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Kapolsek Pamona Selatan IPTU Oktavianus Batara mengatakan personel gabungan bersama ratusan warga sebelumnya telah melakukan pemadaman sekaligus membuat sekat bakar untuk membatasi pergerakan api.

Menurutnya, karakter lahan gambut menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman karena api dapat tetap menyala di bawah permukaan tanah.

"Penanganan karhutla di lahan gambut memang memiliki tantangan tersendiri, karena api bisa bertahan di bawah permukaan tanah. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, terlebih angin kencang dapat mempercepat penyebaran api," ucapnya.

Sumber: