Rosan: Indonesia Siap Jadi Rantai Pasok Global Baterai Kendaraan Listrik

Rosan: Indonesia Siap Jadi Rantai Pasok Global Baterai Kendaraan Listrik

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani.-Foto: Bakom RI-

Jakarta, Disway.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyatakan Indonesia berpeluang menjadi bagian penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik (EV). Kesiapan tersebut didukung peningkatan investasi nikel dan pengembangan ekosistem industri terintegrasi di dalam negeri.

Rosan menjelaskan, pemerintah terus mendorong terbentuknya ekosistem industri yang mencakup berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pembuatan komponen baterai. Pengembangan ini terutama berlangsung di dua kawasan industri, yakni PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Dalam acara Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Rosan memaparkan nilai ekspor dari kedua kawasan tersebut.

"Selama ini ekspor yang terjadi dari kawasan ini (IWIP) kurang lebih USD 11 miliar. Kalau digabungkan dengan kawasan IMIP, total ekspornya mencapai USD 28 miliar atau 10 persen dari total ekspor Indonesia," ujar Rosan dikutip dalam keterangan, Jumat (9/10/2026).

Besarnya skala industri di kedua kawasan itu juga terlihat dari kapasitas pembangkit listrik yang tersedia dan tengah dikembangkan. IWIP tercatat memiliki kapasitas listrik terpasang lebih dari 7,1 gigawatt (GW), sedangkan kawasan IMIP mencapai 8,8 GW.

"Jadi ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura yang (sebesar) 13,1 gigawatt. Jadi dua industri ini sudah lebih besar dari Singapura energi listriknya," jelasnya.

Rosan menilai besarnya investasi dan kapasitas industri tersebut menjadi indikasi berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Dengan dukungan berbagai fasilitas produksi, Indonesia diharapkan mampu memasok kebutuhan baterai kendaraan listrik di pasar internasional.

"Ini akan menjadikan the whole ecosystem ada di sini. Kita akan menjadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik," tegasnya.

Ia menambahkan, kebijakan hilirisasi nikel tidak sebatas meningkatkan nilai tambah bahan mentah, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat industrialisasi nasional. Salah satu sasaran yang ingin dicapai ialah terbentuknya ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, termasuk kegiatan daur ulang.

"Dan tentunya hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Di Morowali ini dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," kata Rosan.

Dari sisi investasi, proyek-proyek baru di kawasan IWIP mencatatkan nilai mencapai USD 10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun. Investasi tersebut berasal dari berbagai negara dan melibatkan sejumlah perusahaan global.

"Dari 10 itu Bapak Presiden, 4 proyek baru selesai dan memiliki seremoni komersial dan juga ekspor senilai USD 3,4 miliar yang sudah selesai atau kurang lebih Rp60 triliun, dan 6 proyek lainnya senilai USD 6,8 miliar melaksanakan seremoni peletakan batu pertama," pungkasnya.

Angle Berita

Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi bagian penting dalam rantai pasok global baterai kendaraan listrik melalui penguatan investasi nikel dan pengembangan industri terintegrasi. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menyebut ekspansi proyek di kawasan IWIP dan IMIP menjadi modal untuk memperluas produksi, meningkatkan nilai tambah, hingga mengembangkan daur ulang baterai.

Sumber: