BNPB Gencarkan Modifikasi Cuaca di Tiga Provinsi, 864 Titik Api Masih Terdeteksi
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan.-Foto: BNPB-
Jakarta, Disway.id - BNPB terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan untuk menekan penyebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski hujan mulai mengguyur sejumlah daerah. Hingga 3 November 2026, tercatat masih ada 864 titik api dengan total luas lahan yang dalam penanganan mencapai 1.615 hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa pelaksanaan OMC saat ini difokuskan pada tiga provinsi yang menjadi prioritas, yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.
“Kami tetap melakukan operasi modifikasi cuaca. Namun, kali ini kami akan menyampaikan tiga provinsi yang secara signifikan kami melakukan kegiatan ini,” ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Di Kalimantan Tengah, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sebanyak enam sorti penerbangan dengan total penyemaian 10.600 kilogram dry ice dan garam. Kegiatan tersebut menghasilkan hujan ringan di Palangkaraya serta sejumlah kabupaten, meliputi Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, hingga kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Pelaksanaan OMC di Kalimantan Selatan dilakukan melalui dua sorti penerbangan dengan menggunakan 1.800 kilogram garam sebagai bahan penyemaian. Hujan ringan kemudian mengguyur beberapa daerah, di antaranya Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.
Adapun di Sumatera Selatan, BNPB melakukan penyemaian awan melalui dua sorti penerbangan dengan mengerahkan 5.600 kilogram garam. Upaya tersebut memicu turunnya hujan dengan intensitas yang cenderung lebat di sejumlah lokasi, yakni Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, kawasan sekitar Bandara Palembang, Muara Padang, serta Banyuasin.
Berton menegaskan bahwa upaya pengendalian karhutla tidak boleh diabaikan karena dampak yang ditimbulkan mencakup berbagai aspek kehidupan. Selain mengancam kelestarian lingkungan, kebakaran juga berpotensi membahayakan keselamatan warga, kesehatan masyarakat, hingga kondisi sosial dan perekonomian.
“Peristiwa kebakaran hutan dan lahan tentu memiliki konsekuensi terhadap aspek lingkungan hidup, keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi,” tegas dia.
Berdasarkan data pemantauan BNPB hingga 3 November 2026, sebanyak 864 titik api masih terdeteksi di berbagai daerah di Indonesia. Sementara itu, total luas lahan yang tengah ditangani akibat karhutla tercatat mencapai 1.615 hektare. BNPB memberikan perhatian khusus terhadap enam provinsi berdasarkan perkembangan jumlah titik api dan luas lahan yang terdampak.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah dengan peningkatan kebakaran cukup signifikan. Jumlah titik api di provinsi tersebut bertambah 50 persen menjadi 425 titik dibandingkan hari sebelumnya. Luas lahan yang sedang ditangani juga mengalami kenaikan hingga mencapai 664 hektare.
Kondisi serupa terjadi di Sumatera Selatan. Jumlah titik api meningkat 186 persen menjadi 60 titik, sedangkan luas lahan yang ditangani mencapai 105 hektare atau bertambah 66 persen.
Di Jambi, BNPB mencatat 150 titik api atau mengalami kenaikan sebesar 134 persen. Luas lahan yang tengah ditangani di wilayah tersebut mencapai 403 hektare.
Berbeda dengan tiga daerah tersebut, Kalimantan Timur mengalami penurunan jumlah titik api menjadi 85 titik. Namun, luas lahan yang terbakar justru bertambah hingga mencapai 182 hektare.
Sementara itu, perkembangan karhutla di Papua Selatan menunjukkan tren penurunan. Jumlah titik api tercatat sebanyak 120 titik, sedangkan luas lahan yang ditangani menyusut 78 persen menjadi 203 hektare.
Sumber: