Jakarta, Disway.id - Platform layanan perjalanan ibadah Shiratha resmi diperkenalkan kepada publik melalui agenda Launching and Charity Fun Run For Buya Hamka di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Shiratha bersama Kamar Entrepreneur Indonesia (KEIND) dan Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LW MUI). Puncak Charity Fun Run For Buya Hamka dijadwalkan berlangsung pada 13 September 2026 di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, dengan target sekitar 500 peserta.
Berbeda dari ajang lari pada umumnya, kegiatan ini membawa misi sosial. Biaya pendaftaran sebesar Rp100.000 dari setiap peserta akan disalurkan untuk mendukung perbaikan dan revitalisasi destinasi wisata syariah Kampung Buya Hamka di kawasan Danau Maninjau, Sumatera Barat.
CEO & Founder Shiratha, Aan Yugiastomo, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan Shiratha kepada masyarakat serta bagian dari persiapan pembentukan Badan Haji dan Umrah.
"Kami mengajak berkolaborasi dengan MUI untuk bisa memanfaatkan kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Lembaga Wakaf MUI. Ini sekaligus menjadi ajang sosialisasi program-program kita kedepannya," Aan saat Launching and Charity Fun Run For Buya Hamka yang diselenggarakan Shiratha di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2026).
Dana Fun Run untuk Restorasi Kampung Buya Hamka
Aan menjelaskan seluruh dana yang terkumpul dari pendaftaran peserta akan diarahkan untuk pembangunan fasilitas pendukung di kawasan yang berkaitan dengan Buya Hamka. Untuk tahap awal restorasi, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar.
Menurut Aan, peluncuran Shiratha juga menandai perubahan identitas perusahaan dari Treetan menjadi Shiratha. Rebranding tersebut sekaligus memperkuat komitmen perusahaan untuk terlibat dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Ia menilai kawasan Danau Maninjau mempunyai potensi besar sebagai destinasi wisata spiritual. Potensi tersebut tidak hanya menyasar wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura.
Karena itu, Shiratha berencana ikut mempromosikan destinasi tersebut. Pengembangan fasilitas pendukung, termasuk akomodasi berbasis hotel di sekitar museum, juga menjadi bagian dari potensi yang dapat dikembangkan.
Travel Haji dan Umrah Dikurasi
Dari sisi layanan, Shiratha menawarkan sistem verifikasi dan kurasi terhadap agen perjalanan haji dan umrah yang ingin bergabung dalam platform tersebut.
Aan mengatakan proses tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap penyedia perjalanan yang telah melalui tahapan pemeriksaan. Selain kurasi, setiap pemesanan juga dilengkapi dengan perlindungan asuransi.
"Jadi tidak semua travel masuk ke kami (Shiratha), travel tersebut aman merupakan kurasi melakukan verifikasi yang cukup ketat untuk bisa kemudian bisa teronggor dan terakses oleh masyarakat. Kedua, kami juga berikan asuransi," kata Aan.
Ia berharap pola layanan tersebut nantinya dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem perjalanan haji dan umrah yang lebih aman dan mudah diakses masyarakat.
"Nah ini pola-pola yang ingin kita bangun yang nanti mudah-mudahan bisa kita dorong ke Kementerian Haji dan Umrah. Nanti bahwa kami insya Allah akan siap menjadi mitra mereka untuk bisa memberikan akses terhadap masyarakat pada travel-travel yang sebetulnya banyak sekali. Nah ini insya Allah kita akan lakukan," pungkasnya.
LW MUI Sambut Kolaborasi
Ketua Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indonesia (LW MUI), Ahmad Zayadi, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menjelaskan nama Shiratha memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan Surah Al-Fatihah, khususnya ayat ketujuh yang mengandung doa agar manusia senantiasa berada di jalan yang lurus.