Persaingan UTBK SNBT 2026 Lebih Ketat untuk Prodi Kedokteran Baru

Persaingan UTBK SNBT 2026 Lebih Ketat untuk Prodi Kedokteran Baru

--

Lapisan berikutnya berada pada kisaran 1:30 hingga 1:40, mencakup Universitas Indonesia , Institut Teknologi Sepuluh Nopember , Universitas Sebelas Maret , Universitas Airlangga , dan Universitas Brawijaya. 

Kelompok ini tetap sangat kompetitif dengan peluang sekitar 2 hingga 3 persen. 

Sementara itu, pilihan yang relatif lebih longgar berada di bawah rasio 1:20, seperti Universitas Tanjungpura, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Pattimura, hingga Universitas Mataram dan Universitas Cenderawasih yang berada di kisaran 1:10 hingga 1:13. 

Bahkan beberapa kampus seperti Universitas Khairun mencatat rasio sekitar 1:8.

 

Fakultas Kedokteran Gigi

Pada kedokteran gigi, pola serupa juga terlihat. Kelompok paling ketat dipimpin Universitas Diponegoro dengan rasio 1:66, disusul Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Brawijaya, dan Universitas Padjadjaran di kisaran 1:31 hingga 1:36. 

Lapisan menengah berada pada rasio 1:23 hingga 1:30, mencakup Universitas Gadjah Mada, Universitas Syiah Kuala, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Airlangga. Sementara itu, kelompok yang lebih longgar berada pada rasio 1:19 hingga 1:24 seperti Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Jember, hingga Universitas Udayana, dan mulai semakin longgar di bawah 1:15 seperti Universitas Lambung Mangkurat.Di tingkat global, kebutuhan tenaga keperawatan juga terus meningkat. 

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan dunia masih akan mengalami kekurangan sekitar 4,8 juta perawat dan bidan pada 2030, dengan kesenjangan terbesar terjadi di Afrika, Asia Tenggara, dan kawasan Mediterania Timur. 

Kebutuhan yang besar ini turut tercermin dalam dinamika persaingan di tingkat pendidikan. Dalam UTBK-SNBT, program studi keperawatan menunjukkan spektrum persaingan yang paling lebar. 

Kedokteran secara konsisten menjadi yang paling diminati. Pada 2021, jumlah peminat mencapai 64.454 orang dan meningkat hingga puncaknya pada 2023 sebanyak 74.787 orang, sebelum turun menjadi 70.927 pada 2025. Kondisi serupa terlihat pada program studi farmasi dan psikologi. Peminat farmasi sempat naik dari 40.034 menjadi 45.927 , lalu cenderung menurun hingga 42.354 pada 2025. Sementara itu, psikologi yang sempat menyentuh 61.069 peminat pada 2023, turun menjadi 53.031 pada 2025. Berbeda dengan tren tersebut, kedokteran gigi justru menunjukkan peningkatan minat yang relatif stabil. Jumlah peminat naik dari 15.515 pada 2021 menjadi 18.941 pada 2025. Adapun keperawatan mengalami fluktuasi, dengan lonjakan signifikan pada 2024 mencapai 32.397 peminat, sebelum sedikit menurun di 2025. Di sisi lain, daya tampung seluruh program studi ini terus meningkat setiap tahun. Daya tampung kedokteran, misalnya, naik dari 2.299 kursi pada 2021 menjadi 3.159 pada 2025. 

Fakultas Farmasi

Farmasi juga meningkat dari 1.820 menjadi 2.336 kursi dalam periode yang sama. Kenaikan serupa terjadi pada psikologi, keperawatan, dan kedokteran gigi. Meski demikian, tingginya rasio peminat dibandingkan daya tampung menunjukkan persaingan yang tetap ketat. Pada 2025, program studi kedokteran masih mencatat sekitar 22 pendaftar untuk setiap satu kursi. Psikologi sekitar 15 pendaftar per kursi, sementara farmasi sekitar 18 pendaftar per kursi. Artinya, meski kursi bertambah, kompetisi tetap ketat.Menariknya, peta persaingan UTBK-SNBT kini tidak lagi sepenuhnya mengikuti reputasi historis kampus. Fakultas kedokteran dan kedokteran gigi legendaris seperti FK Universitas Indonesia yang berakar dari STOVIA, serta FK dan FKG Universitas Airlangga yang terkait dengan NIAS dan STOVIT, tetap berada di kelompok sangat kompetitif.FK UI, misalnya, berada di kisaran rasio 1:37, sementara FKG Unair sekitar 1:23. Angka ini masih tinggi, tetapi tidak setinggi beberapa program kedokteran di kampus lain yang relatif lebih baru.

Sumber: