Mengintip Sejarah JakLingko, Transportasi Jaringan Laba-laba Modern

Mengintip Sejarah JakLingko, Transportasi Jaringan Laba-laba Modern

--

Sulteng,disway.id - Lifestyle JakLingko merupakan kepanjangan dari Jakarta Lingko. Lingko sendiri diambil dari istilah kosakata bahasa Manggarai (Nusa Tenggara Timur), yang berarti sistem jaringan air atau pembagian sawah terpadu berbentuk jaring laba-laba. Nama JakLingko dipilih karena mencerminkan sistem transportasi Jakarta yang saling terintegrasi, terhubung, dan menjangkau seluruh wilayah layaknya sebuah jaringan laba-laba.

Berbeda dengan angkot, Jaklingko ini lebih nyaman, dia menggunakan kursi sofa dan dilengkapi dengan dinginnya AC. Poin plus nya adalah, Jaklingko ini tanpa dipungut biaya sepeserpun, hanya dengan kartu pembayaran (emoney, dll)

 

Suasananya yang tenang, membuat penumpang bisa dengan nyaman untuk beristirahat sejenak. Ketenangan di dalam

mobil ini berakar dari ketenangan hati sang pengemudi. Berkat sistem Jaklingko,

para sopir kini tidak lagi stres memikirkan uang setoran harian. 

Mereka sudah digaji bulanan secara layak. Jadi, tidak heran kalau gaya menyetir mereka sekarang jauh lebih santai, ramah, dan tidak ugal-ugalan. 

Tapi dengan tarif Rp0 ini, jaklingko tetap memiliki kekurangan dan banyak dari penumpangnya menyayangkan adanya kekurangan ini. 

Yaitu operasionalnya yabg masih terbatas, khusus di wilayah DKI Jakarta saja. Diantaranya ada Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. 

Beberapa penumpang yang pernah merasakan nyamannya Jaklingko di ke lima kota Jakarta tersebut, tapi tidak bisa menikmati Jaklingko di kotanya sendiri, menyayangkan hal utu. Karena, hadirnya Jaklingko sangat mempermudah mereka untuk berpergian. Entah itu pergi kekantor, sekolah, atau kuliah. 

 

Namun baru baru ini, Jaklingko dikabarkan akan memulai sistem bayaran yang dimulai dari tarif Rp 2.000. Ketua DTKJ, Sugihardjo, menjelaskan bahwa kebijakan Rp0 sejak awal sebenarnya berstatus uji coba agar masyarakat mau beralih ke angkutan umum. Namun, sistem gratis ini memicu masalah baru. Karena tidak ada saldo yang terpotong, kerap ditemukan oknum pengemudi yang melakukan aksi tap kartu berulang kali (fraud) demi memanipulasi jumlah penumpang agar target kilometer kontrak mereka tercapai. 

 

Tapi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menegaskan bahwa nominal Rp2.000 ini masih berupa usulan resmi.

Sumber: