Makan Korban! Gempar Ratusan Kepala Dapur MBG Dipecat Imbas Keracunan Massal!
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono.-Foto: Istimewa-
Jakarta, Disway.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengambil sikap keras merespons maraknya insiden keracunan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menegaskan tidak ada ruang kompromi bagi kelalaian yang mengancam keselamatan para penerima manfaat.
Kesehatan anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita ditempatkan sebagai prioritas mutlak yang tak boleh dikorbankan oleh kecerobohan operasional.
"Kejadian keracunan tidak boleh terjadi lagi. Zero tolerance terhadap kasus keracunan. Ini menyangkut nyawa, menyangkut kondisi kesehatan dan keamanan dari anak-anak kita, ibu hamil, menyusui dan balita-balita kita," ujar Sudaryono dikutip dari video keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Sikap tegas ini diwujudkan lewat penindakan disiplin masif berupa pencopotan 137 kepala dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sebaran Kepala Dapur yang Dicopot
Langkah tegas ini menyasar pengelola dapur yang terbukti lalai, terlibat kasus keracunan, hingga terindikasi melakukan penyimpangan anggaran. Berikut rincian wilayah pencopotan:
- Jawa Barat: 49 kepala dapur
-
Lampung: 26 kepala dapur
-
Jawa Timur: 11 kepala dapur
-
Sumatera Utara: 10 kepala dapur
-
Banten: 10 kepala dapur
-
Jawa Tengah: 5 kepala dapur (termasuk pengelola dapur pemicu keracunan di SMKN 6 Semarang)
Sudaryono menegaskan bahwa tindakan tegas ini tidak terbatas pada isu keamanan pangan semata, tetapi juga mencakup penyelewengan tata kelola keuangan.
"Kami zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindakan korupsi, hengi-pengi, ngentit uang, dan lain-lain itu kita zero tolerance," tegasnya.
Sistem Pengawasan Ketat Diperkuat
Mencegah musibah berulang, BGN kini memperketat kontrol sistemik di seluruh jaringan fasilitas dapur MBG agar seluruh proses pemenuhan gizi berjalan akuntabel.
"Kami telah menyiapkan suatu sistem mekanisme di mana trust is good, but control is better. Kita tidak bisa kemudian mempercayakan sepenuhnya kepada seseorang, tapi bagaimana seseorang yang bekerja itu kemudian bisa dikontrol dengan sistem," kata Sudaryono.
Sumber: