UIN Datokarama dan Institut Leimena Latih 40 Guru Perkuat Toleransi
Sebanyak 40 pendidik lintas agama di Sulawesi Tengah mengikuti pelatihan LKLB yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu bersama Institut Leimena.-Foto: ANTARA/Moh Salam-
Palu, Disway.id – Sebanyak 40 pendidik lintas agama di Sulawesi Tengah mengikuti pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu bersama Institut Leimena.
Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menanamkan nilai toleransi, keberagaman, serta penghormatan terhadap perbedaan di lingkungan sekolah.
Direktur Program Institut Leimena Daniel Adipranata mengatakan posisi guru sangat penting dalam menjaga keberagaman. Karena itu, peserta pelatihan diberikan keterampilan untuk menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) maupun modul ajar yang mengadopsi pendekatan LKLB.
“Guru merupakan ujung tombak dalam merawat keberagaman. Karena itu, guru didorong dan diberi keterampilan membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar berbasis LKLB,” kata Direktur Program Institut Leimena Daniel Adipranata dilansir dari Antara, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Daniel, sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kerukunan antarumat beragama. Guru, kata dia, berada di posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik dalam proses pendidikan sehari-hari.
Ia menjelaskan, pendekatan LKLB memungkinkan nilai-nilai toleransi dan pemahaman lintas agama diterapkan ke dalam berbagai mata pelajaran, sehingga tidak berhenti sebagai materi pembelajaran semata.
“Jadi toleransi bukan sekadar teori yang kita pelajari di atas kertas, tetapi juga ditentukan oleh pengalaman berinteraksi secara langsung setiap guru tersebut,” ujarnya.
Daniel menyebut interaksi langsung menjadi salah satu bagian penting dari pelatihan. Peserta yang berasal dari latar belakang agama berbeda diberikan kesempatan membangun komunikasi, berdiskusi, serta berbagi pengalaman dalam satu forum.
“Dari evaluasi awal, sekitar 95 persen peserta mengaku baru pertama kali berada dalam satu forum berdiskusi intensif hingga tinggal menginap bersama sejawat yang berbeda keyakinan,” katanya.
Lokakarya LKLB tersebut diikuti 40 guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah dari berbagai latar belakang agama. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam memasukkan prinsip keberagaman dan penghormatan terhadap perbedaan ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Peserta pelatihan berasal dari sejumlah wilayah, yakni Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Poso di Sulawesi Tengah. Selain itu, terdapat peserta dari Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat.
Selama pelatihan, para pendidik mendapatkan pendampingan untuk mengubah nilai-nilai LKLB menjadi bagian dari praktik pembelajaran serta berbagai program yang dapat diterapkan di sekolah.
Dalam pendekatan LKLB, terdapat tiga kompetensi utama yang diperkenalkan kepada pendidik sebagai bekal hidup di tengah masyarakat yang memiliki keragaman agama dan budaya. Ketiganya meliputi kompetensi pribadi, komparatif, dan kolaboratif.
Sumber: