Donggala, Disway.id - Ada momen sederhana namun penuh makna yang dibagikan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, usai kegiatan Safari Ramadan di Donggala. Bukan tentang seremoni besar, melainkan tentang 10 menit terakhir menjelang azan Maghrib yang terasa begitu panjang.
Dalam keterangannya, Anwar Hafid mengisahkan pengalamannya setelah menyampaikan kultum di hadapan jamaah. Ia mengira waktu berbuka sudah sangat dekat. Namun ketika melihat jam, ternyata masih tersisa sekitar 10 menit lagi sebelum azan berkumandang.
“Dari giat Safari Ramadan di Donggala ada satu pelajaran berharga. Setelah menyampaikan kultum, saya kira waktu berbuka sudah dekat. Ternyata ketika melihat jam, masih tersisa sekitar 10 menit lagi menjelang adzan maghrib. Rasanya sedikit lagi waktu berbuka puasa itu justru terasa lebih lama,” ungkapnya dikutip dari Instagram pribadinya, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, justru pada detik-detik itulah makna puasa terasa begitu nyata. Penantian singkat yang terasa panjang menjadi pengingat tentang arti kesabaran dan pengendalian diri.
“Namun di situlah makna puasa sesungguhnya. Allah SWT mengajarkan kita tentang kesabaran, melatih ketakwaan, dan mengingatkan bahwa di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang menahan lapar dan kesulitan setiap hari. Dari Ramadhan inilah kita belajar untuk lebih peduli, berbagi, dan lebih menghargai sesama,” lanjutnya.
Refleksi tersebut mendapat respons hangat dari masyarakat. Banyak yang menyampaikan dukungan dan doa agar Gubernur dan jajaran tetap sehat dalam menjalankan amanah. Ada pula warga dari luar daerah yang menitipkan salam dan harapan agar semangat kebersamaan Ramadan terus terjaga di seluruh penjuru Sulawesi Tengah.
Safari Ramadan yang digelar Pemerintah Provinsi bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga ruang berbagi pesan moral dan nilai spiritual. Di tengah kesibukan pemerintahan, momen menanti sepuluh menit sebelum berbuka itu menjadi pengingat bahwa kepemimpinan pun membutuhkan kesabaran, empati, dan kedekatan dengan masyarakat.
Ramadan, dengan segala kesederhanaannya, kembali mengajarkan bahwa waktu yang singkat bisa menyimpan makna yang dalam, asal direnungi dengan hati yang lapang.