Harga Cabai di Sulteng Melejit, Disperindag Siapkan Intervensi Pasar

Selasa 08-09-2026,22:23 WIB
Reporter : Mihardin
Editor : Mihardin

Palu, Disway.id - Harga cabai di sejumlah pasar di Sulawesi Tengah (Sulteng) melonjak tajam. Kondisi tersebut dipicu berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi akibat cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Niño.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng kini menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan sekaligus menekan gejolak harga cabai di pasaran.

Kepala Disperindag Sulteng Richard Arnaldo Djanggola mengatakan kenaikan harga terjadi karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

“Memang kondisinya kami dapat catat bahwa harga cabai di beberapa pasar pantauan itu melonjak drastis tinggi dikarenakan supply-demand,” kata Richard di Palu, dilansir dari Antara, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan Disperindag Sulteng, harga cabai merah biasa kini mencapai Rp35 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp20 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang kini berada di level Rp60 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp37.500 per kilogram.

Harga cabai rawit merah bahkan melonjak hampir dua kali lipat, dari Rp49.167 menjadi Rp95 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit hijau naik dari Rp50 ribu menjadi Rp105 ribu per kilogram.

Richard menjelaskan, pasokan dari wilayah sentra produksi mengalami penurunan akibat kondisi cuaca kering. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap cabai tetap tinggi dan bahkan cenderung meningkat.

Momentum sejumlah kegiatan masyarakat turut mendorong permintaan. Salah satunya perayaan Maulid yang membuat kebutuhan cabai di pasar mengalami peningkatan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Disperindag Sulteng berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk Dinas Pertanian di tingkat provinsi serta kabupaten/kota.

Koordinasi dilakukan untuk mencari langkah pencegahan agar pasokan cabai tetap tersedia dan gejolak harga dapat dikendalikan.

Disperindag juga mulai berkomunikasi dengan sejumlah daerah penghasil cabai. Jika terdapat daerah yang memiliki surplus produksi, pasokan tersebut akan diupayakan masuk ke Sulteng melalui kerja sama dengan distributor.

“Kami juga mencoba menghubungi daerah-daerah penghasil. Jika memang ada kelebihan stok dari mereka, bisa bekerja sama dengan para distributor dari kita di sini untuk bisa melakukan intervensi pasar,” ujarnya.

Richard mengatakan sebagian besar pasokan cabai Sulteng berasal dari Sulawesi Selatan. Sementara dari dalam wilayah Sulteng, produksi antara lain berasal dari Kabupaten Sigi dan kawasan Napu.

Namun, produksi dari daerah-daerah tersebut belum cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar secara keseluruhan.

Kategori :