MPSI: Literasi Publik Penting Hadapi Polemik Narasi Demo Agustus 2025
Direktur Merah Pusaka Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari.-Foto: Tangkapan layar-
Jakarta, Disway.id - Direktur Merah Pusaka Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari menyoroti polemik narasi yang berkembang terkait Demo Agustus 2025. Ia menilai sejumlah pemberitaan dan pernyataan publik berpotensi menimbulkan persepsi keliru karena tidak sepenuhnya berbasis data lapangan.
Menurutnya, informasi yang terus diulang tanpa verifikasi yang memadai dapat membentuk persepsi seolah-olah benar. Fenomena ini dikenal sebagai Illusory Truth Effect, yakni kecenderungan publik mempercayai informasi yang sering diulang meskipun belum tentu akurat.
“Ini bisa mengarah pada pembentukan opini publik yang tidak utuh. Karena itu, penting memastikan setiap informasi yang beredar memiliki dasar data yang jelas,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (27/2/2026).
Noor juga mengkritisi pemberitaan Tempo serta laporan Komisi Pencari Fakta bentukan koalisi masyarakat sipil yang dinilainya perlu diuji kembali dari sisi validitas dan reliabilitas data. Berdasarkan analisis internal MPSI, terdapat perbedaan antara temuan lapangan dan narasi yang berkembang di ruang publik.
Ia mengingatkan agar isu-isu sensitif tidak disajikan tanpa konfirmasi menyeluruh kepada pihak terkait, karena berpotensi memicu kesalahpahaman antar-institusi, termasuk antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
“Media memiliki peran strategis sebagai pilar pencerdas publik. Karena itu, prinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab etik harus dijaga,” katanya.
Di sisi lain, Noor Azhari juga menekankan pentingnya peningkatan literasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum teruji kebenarannya.
“Masyarakat perlu bersikap kritis dan selektif dalam menerima informasi. Kebenaran harus dibangun di atas data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.
Sumber: