Rencana Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza Ditunda, Prabowo Tegaskan Fokus Kemanusiaan
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri pengukuhan pengurus MUI periode 2025-2030 di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).-Foto: Istimewa-
Jakarta, Disway.id - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa rencana pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza, Palestina, tidak bertujuan untuk melucuti senjata Hamas. Ia memastikan misi tersebut berorientasi pada perlindungan warga sipil di tengah konflik.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum diskusi terbuka Presiden Prabowo Menjawab yang digelar di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan ditayangkan pada Kamis, 19 Maret 2026.
“Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina. Saya selalu katakan, dalam pembicaraan saya dengan tokoh-tokoh barat, kita akan ikut (Board of Peace/BoP) dan kita siap kirim pasukan perdamaian, asal saya bilang semua pihak setuju keterlibatan Indonesia,” kata Prabowo.
Ia menjelaskan, keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian mensyaratkan persetujuan dari berbagai pihak, terutama tokoh Palestina serta negara-negara mayoritas Muslim yang tergabung dalam Board of Peace (BoP), seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir.
Selain itu, Prabowo juga menekankan pentingnya persetujuan dari Hamas sebagai pihak yang memiliki pengaruh di wilayah Gaza.
“Dan, saya juga mengatakan, de facto, Hamas harus menerima kita. Itu saya sampaikan. Karena we want to be a peacekeeping force,” tegas Prabowo.
Dalam skema tersebut, Indonesia menetapkan batasan tegas (national caveats), yakni tidak akan terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas maupun upaya pelucutan senjata.
“National caveats. Kita tegas, kita tidak mau terlibat dalam aksi militer terhadap Hamas,” ujarnya.
“Kedua, kita tidak mau terlibat dalam mengambil senjata, deweaponization, dari Hamas. Kita tidak mau ikut. Yang kita mau adalah menjaga rakyat sipil dari serangan mana pun,” lanjut Presiden.
Namun, rencana pengiriman pasukan saat ini masih ditangguhkan menyusul meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Kondisi tersebut dinilai belum memungkinkan untuk pelaksanaan misi perdamaian.
“Itu komitmen kita. Setelah terjadi perang begini, kita konsultasi, tapi de facto-nya adalah everything on hold. Ya, saya sudah umumkan,” katanya.
Sebelumnya, Indonesia merencanakan pengiriman hingga 8.000 personel TNI untuk bergabung dalam misi International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Meski persiapan telah dilakukan, pelaksanaannya masih menunggu mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta situasi keamanan yang kondusif.
Sumber: