Indonesia Berduka, Eyang Meri Hoegeng Wafat di Usia 100 Tahun

Rabu 04-02-2026,09:31 WIB
Reporter : Dimas Satriyo Nugroho
Editor : Dimas Satriyo Nugroho

Sulteng, Disway.id - Eyang Meri Hoegeng – Pendamping Setia Simbol Integritas Polri

Indonesia kehilangan sosok teladan ketika Meri Yati Roeslani Hoegeng, yang akrab disapa Eyang Meri, meninggal dunia pada hari Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.25 WIB di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Beliau berpulang pada usia 100 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang terus menurun.

Jenazah Eyang Meri sempat disemayamkan di Rumah Duka Pesona Khayangan, Depok, sebelum dimakamkan pada hari Rabu, 4 Februari 2026, di Taman Pemakaman Giri Tama, Desa Tonjong, Kabupaten Bogor, berdampingan dengan makam suaminya, Almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso, mantan Kapolri ke-5 yang dikenal sebagai simbol kejujuran dan anti-korupsi.

Profil Singkat: Dari Dunia Radio ke Pendamping Legenda

Meri Yati Hoegeng lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925, putri pasangan Dr. Mas Soemakno Marto Koe So Emo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Sejak muda, beliau aktif di dunia penyiaran radio militer, tempat pertama kali bertemu dengan Hoegeng yang kala itu masih seorang perwira Angkatan Laut. Hubungan mereka berlanjut hingga menikah pada 31 Oktober 1946 di masa awal kemerdekaan Indonesia, dan dikaruniai tiga anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamuji Ning Rahayu.

Selama mendampingi Hoegeng menjabat sebagai Kapolri periode 1968–1971, Eyang Meri dikenal sebagai sosok yang sederhana, tegar, dan penuh dedikasi. Beliau tidak pernah memanfaatkan jabatan suaminya untuk kepentingan pribadi; bahkan, ketika Hoegeng belum mendapatkan tugas di Jakarta, Eyang Meri pernah membuka toko bunga di Pasar Cikini untuk menopang ekonomi keluarga, sebelum menutupnya demi menghindari konflik kepentingan setelah suaminya diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi.

Penjaga Nilai Moral dan Inspirasi Bagi Polri

Meskipun tidak tampil di ruang publik secara formal, peran Eyang Meri sangat berarti sebagai penjaga nilai-nilai moral keluarga Hoegeng dan pengingat bagi generasi penerus Polri tentang pentingnya integritas. Beliau kerap menyampaikan pesan agar institusi Polri tetap menjunjung tinggi kejujuran dan menjadi teladan bagi masyarakat.

Pada peresmian Monumen Jenderal Hoegeng di Pekalongan November 2023, Eyang Meri sempat menitipkan doa agar anggota Polri selalu menjadi contoh baik. Saat merayakan ulang tahun ke-100 pada Juni 2025, cucunya, Rama Hoegeng, meluncurkan buku "Meri Yati Hoegeng, 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian" yang berisi cerita dan kliping tentang kehidupannya, dengan kontribusi dari Megawati Soekarnoputri.

Tanggapan dari Pimpinan Negara dan Polri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan duka mendalam atas kepergian Eyang Meri, menyebutnya sebagai "pelita keteladanan" dan "saksi sejarah" perjalanan Polri. "Beliau bukan sekadar istri seorang jenderal, tetapi juga inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk menjaga marwah institusi," ujar Listyo melalui akun Instagram pribadinya.

Menteri Dalam Negeri Jenderal (Purn) Tito Karnavian juga mengungkapkan rasa sedih, menyebut Eyang Meri sebagai "sosok panutan" yang selalu menyebarkan kebaikan. Ucapan belasungkawa juga mengalir dari berbagai kalangan masyarakat yang mengenal nilai-nilai keluarga Hoegeng.

Penutup Bab Sejarah Keteladanan

Kehadiran Eyang Meri selama 100 tahun menjadi bukti kesetiaan, kesederhanaan, dan keberanian menjaga prinsip. Beliau tidak hanya mendampingi seorang legenda polisi, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi banyak orang tentang bagaimana hidup dengan integritas meskipun dalam kondisi apapun. Kisah hidupnya akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah moral Indonesia dan inspirasi bagi generasi mendatang.

Kategori :