Pemkab Sigi Siapkan Program Adaptasi Iklim di Enam Desa hingga 2028

Kamis 21-05-2026,13:15 WIB
Reporter : Mihardin
Editor : Mihardin

Sigi, Disway.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), segera menjalankan program adaptasi perubahan iklim di enam desa dengan menggandeng konsorsium KOLABORASI sebagai mitra pelaksana.

Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae menjelaskan program tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak krisis iklim, terutama pada sektor pertanian dan kawasan pedesaan.

"Jadi program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan kekeringan yang berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat," kata Rizal dilansir Antara, Kamis (21/5/2026).

Ia menerangkan program itu nantinya berfokus pada tiga aspek utama, yakni penguatan kebijakan adaptasi iklim di tingkat daerah, penerapan pendekatan Water, Energy, Food (WEF) Nexus di desa, serta pembentukan pusat pembelajaran adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten.

Menurut Rizal, sekitar 1.500 penerima manfaat akan dilibatkan dalam program tersebut yang tersebar di enam desa, yakni Desa Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah dan konsorsium KOLABORASI agar implementasi program berjalan optimal.

Kabupaten Sigi sendiri termasuk wilayah yang cukup rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya ancaman banjir dan kekeringan yang sering memengaruhi hasil pertanian masyarakat.

"Tentunya dengan adanya keterbatasan fiskal daerah, program ini menjadi penyemangat pemerintah daerah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi," sebutnya.

Sementara itu, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup Franky Zamzani menilai program di Kabupaten Sigi dapat menjadi contoh praktik baik dalam penerapan adaptasi iklim berbasis kebutuhan masyarakat lokal.

Ia mengatakan pemerintah pusat terus mendorong pendekatan adaptasi perubahan iklim yang tidak hanya berorientasi pada kebijakan nasional, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat di daerah.

"Program di Sigi ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur," kata Franky.

Menurut dia, program tersebut juga menjadi salah satu model pemanfaatan pendanaan iklim internasional yang lebih inklusif dan tepat sasaran.

"Tentunya pendekatan yang diterapkan dalam program ini ke depan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan," ujarnya.

Program Adaptasi Perubahan Iklim di Kabupaten Sigi dijadwalkan berlangsung hingga April 2028. Pemerintah berharap program itu mampu memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam membangun daerah yang lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim di masa mendatang.

Adapun Konsorsium KOLABORASI terdiri atas sejumlah lembaga yang bergerak di bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, yakni Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Water Stewardship Indonesia (WSI), serta Earth Innovation Institute (EII).

Kategori :