BMKG Edukasi Pelajar Sulteng Hadapi Gempa dan Tsunami Lewat Program Go to School

Jumat 17-07-2026,09:12 WIB
Reporter : Mihardin
Editor : Mihardin

Palu, Disway.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat edukasi kebencanaan di Sulawesi Tengah dengan menyasar para pelajar melalui program BMKG Go to School. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang mitigasi bencana sejak usia dini, sekaligus membentuk generasi yang lebih siap menghadapi situasi darurat.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan program tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai potensi bencana, tetapi juga mendorong para pelajar menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

"Selain penguatan mitigasi, program edukasi dari sekolah ke sekolah bertujuan menjadikan siswa-siswi sebagai agen perubahan untuk menyampaikan kepada teman atau keluarganya supaya mereka lebih siap menghadapi potensi bencana," kata Djati dilansir Antara, Jumat (17/7/2026).

Program ini menyasar siswa jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Melalui kunjungan langsung ke sekolah, BMKG memberikan materi mengenai karakteristik bencana, langkah mitigasi, serta cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi maupun tsunami.

Menurut Djati, edukasi tersebut menjadi sangat penting karena Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memiliki pemahaman yang baik agar mampu merespons keadaan darurat dengan tepat.

Selain program kunjungan ke sekolah, BMKG juga menggelar Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami di Kabupaten Sigi pada 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, terlebih wilayah itu belum lama ini diguncang gempa bermagnitudo 6,7.

"Kami juga melaksanakan satu kali kegiatan sekolah lapang gempa dan tsunami di Sigi tahun 2026. Kabupaten itu juga baru-baru ini diguncang gempa magnitudo 6,7," ujarnya.

Djati mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir BMKG telah menyelenggarakan enam kegiatan sekolah lapang di berbagai wilayah Sulawesi Tengah. Program tersebut diharapkan mampu membangun budaya sadar bencana di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa dan tsunami.

Ia menegaskan edukasi kebencanaan merupakan bagian dari tanggung jawab BMKG yang harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak.

"Pemahaman tentang mitigasi tidak hanya diberikan kepada orang dewasa, anak-anak atau usia dini juga harus diberikan pemahaman yang sama dengan metode pembelajaran berbeda," tutur Djati.

BMKG juga mengajak pemerintah daerah, sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk ikut memperluas edukasi kebencanaan melalui sosialisasi, pelatihan, maupun lokakarya. Dengan demikian, kesadaran dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dapat tumbuh menjadi budaya di tengah masyarakat.

Kategori :