Untad Libatkan 1.073 Mahasiswa Perangi TB, Sulteng Bidik Eliminasi 2030

Sabtu 22-08-2026,15:05 WIB
Reporter : Mihardin
Editor : Mihardin

Palu, Disway.id – Universitas Tadulako (Untad) meluncurkan Program Berani Magaya atau Berantas Infeksi TB, Mahasiswa Jaga dan Sayang Keluarga sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis (TB) di Sulawesi Tengah.

Rektor Untad Prof Amar mengatakan, penanganan TB tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi, memiliki peran dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.

“Kita membangun komitmen bersama untuk eliminasi tuberkulosis. TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” kata Amar saat peluncuran Program Berani Magaya di Palu, dilansir Antara, Sabtu (22/8/2026).

Ia menjelaskan perguruan tinggi harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan kesehatan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta pemberdayaan masyarakat.

Untad bersama konsorsium perguruan tinggi se-Sulawesi Tengah yang tergabung dalam KITA Sulteng kemudian menjadikan kampus sebagai salah satu kekuatan dalam mempercepat penanggulangan TB.

Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan peran akademik, tetapi juga dilibatkan sebagai agen perubahan sekaligus pendamping bagi masyarakat.

“Program ini menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai insan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan dan pendamping bagi masyarakat,” ujarnya.

Program Berani Magaya melibatkan 1.073 mahasiswa dan 155 dosen dari tujuh perguruan tinggi di Sulawesi Tengah. Pelaksanaannya berada di bawah koordinasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVI.

Tahap awal program menyasar empat wilayah, yakni Kota Palu, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Tolitoli.

Pendampingan difokuskan pada pasien TB dan keluarga melalui edukasi, pemantauan kepatuhan menjalani pengobatan, serta upaya mencegah penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Amar meminta para mahasiswa dan dosen menjalankan tugas tersebut dengan mengedepankan empati dan kesabaran. Kerahasiaan pasien juga harus dijaga agar pendampingan tidak justru menimbulkan stigma.

“Edukasi keluarga ini juga menjadi penting, kepatuhan pengobatan dan pencegahan penularan. Jadilah jembatan antara keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan bagi semua peserta terlibat,” ujarnya.

Ia menegaskan TB bukan penyakit yang harus membuat penderitanya dikucilkan. Dengan penanganan dan pengobatan yang tepat, pasien TB dapat sembuh.

“TB dapat disembuhkan apabila ditangani dan diobati secara tepat. Ini stigma yang harus dikembangkan. Karena itu, jangan mengucilkan pasien, karena yang harus kita lawan adalah penyakitnya, bukan orangnya,” katanya.

Menurut Amar, percepatan eliminasi TB membutuhkan kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, keluarga, dan masyarakat.

Kategori :