Palu, Disway.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) terus mendorong penguatan slogan 'dua anak lebih sehat' di tengah masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesadaran pentingnya keluarga berencana.
“Dua anak lebih sehat dan lebih baik. Berencana itu keren," kata Wakil Gubernur Sulteng Reny A Lamadjido saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 di Palu dikutip dari Antara, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, penerapan prinsip dua anak dalam keluarga memberi kesempatan bagi orang tua untuk lebih optimal memenuhi kebutuhan anak, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga asupan gizi. Dengan pemenuhan kebutuhan yang lebih baik, peluang anak untuk tumbuh sehat dan terhindar dari stunting diyakini akan semakin besar.
Dalam upaya pencegahan stunting, Reny juga meminta agar dua instrumen pengukuran, yakni Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), dapat diintegrasikan. Hal tersebut dinilai penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terkait penanganan stunting.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan e-PPGBM sebagai sarana pencatatan data anak di Posyandu maupun Puskesmas, sehingga proses pemantauan kasus stunting dapat dilakukan secara rutin setiap bulan.
Dengan pemantauan yang lebih terstruktur, ia optimistis berbagai intervensi program dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, Reny mengingatkan bahwa penilaian kasus stunting tidak seharusnya hanya didasarkan pada indikator tinggi badan anak. Menurutnya, sejumlah indikator lain juga perlu diperhatikan, seperti berat badan yang tidak sesuai usia, lemahnya respons motorik, rendahnya kemampuan konsentrasi, hingga kondisi imunitas tubuh yang membuat anak lebih rentan sakit.
“Melihat stunting bukan hanya dari faktor tinggi badan tapi juga dari faktor-faktor lain,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan melalui kunjungan langsung ke rumah keluarga sasaran intervensi stunting yang sudah tercatat dalam e-PPGBM, namun jarang datang ke Posyandu atau Puskesmas. Langkah ini diperlukan agar pemantauan dan pencatatan bulanan tetap berjalan serta program intervensi tidak terhenti.
Reny turut mengapresiasi berbagai program unggulan yang dijalankan oleh BKKBN Perwakilan Sulawesi Tengah, yang dinilai sejalan dengan program pemerintah provinsi, seperti Berani Sehat dan Berani Cerdas.
Salah satunya adalah program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka stunting.
Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pelaksanaan program Bangga Kencana antara BKKBN Perwakilan Sulteng dengan sejumlah mitra kerja sebagai langkah memperkuat sinergi dalam pembangunan keluarga berkualitas.