Program MBG Kembali Beroperasi dengan Pengawasan Keamanan Pangan Ketat

Selasa 31-03-2026,19:09 WIB
Reporter : Mihardin
Editor : Mihardin

Jakarta, Disway.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dilaksanakan pasca Lebaran 1447 H dengan penguatan pengawasan keamanan pangan di seluruh proses produksi dan distribusi. Pada hari pertama operasional, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Harapan Mulia I Kemayoran mendistribusikan 3.298 porsi MBG melalui sistem yang telah dievaluasi secara menyeluruh.

Kepala SPPG Harapan Mulia I Kemayoran, Fakhri Irfan Pribadi menjelaskan, sebelum MBG dibuka kembali, dilakukan evaluasi bersama berbagai pihak untuk menjaga kualitas layanan tetap optimal.

“Untuk persiapan dibukanya MBG kembali pasca Lebaran atau pasca Ramadan, tentunya teman-teman relawan merasa senang karena mulai bekerja kembali. Persiapannya sama seperti sebelumnya, yaitu kami melakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum tahapan operasional,” ujar Fakhri di SPPG Harapan Mulia, Selasa (31/3/2026).

Ia menambahkan, evaluasi dilakukan secara internal bersama BGN, mitra yayasan, dan relawan, serta koordinasi eksternal dengan instansi yang menangani keamanan pangan, termasuk BPOM dan Kementerian Kesehatan.

Distribusi MBG hari pertama menjangkau tujuh sekolah dan satu posyandu, dengan pembagian waktu terstruktur: SD pukul 07.00, SMP pukul 09.30, SMA/SMK pukul 11.00–12.00, dan posyandu pukul 09.00.

Pengawasan kualitas makanan juga diterapkan secara ketat sebelum distribusi. “Kami melakukan uji organoleptik bersama KSPG dan ahli gizi sebelum distribusi. Jika terdapat aroma, tekstur, atau kualitas yang tidak sesuai, makanan ditarik dan tidak didistribusikan,” ungkap Fakhri.

SPPG menerapkan sistem keamanan pangan menyeluruh dari hulu ke hilir dengan personal hygiene ketat dan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). “Jika bahan baku tidak sesuai dari segi aroma atau tekstur, kami kembalikan ke supplier,” tegasnya.

Berbagai aspek operasional menjadi bagian evaluasi berkelanjutan, termasuk kualitas makanan, hygiene relawan, edukasi gizi, pengolahan limbah, serta kebersihan lingkungan dan sanitasi.

SPPG juga melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko pada penerima manfaat, termasuk alergi makanan. “Kami bekerja sama dengan sekolah untuk mendata alergi siswa. Jika ada alergi, menu diganti, misalnya dari ikan menjadi ayam,” ujar Fakhri.

Dari sisi sumber daya manusia, masyarakat sekitar dilibatkan signifikan, dengan 70% SDM berasal dari warga setempat. Peningkatan kapasitas relawan dilakukan secara berkala untuk menjaga konsistensi pelaksanaan standar operasional.

“Kami melakukan evaluasi berkala setiap satu hingga dua minggu. Evaluasi meliputi edukasi gizi, pelatihan relawan, dan kemampuan SDM,” kata Fakhri.

Dengan penguatan pengawasan dan evaluasi berkelanjutan, program MBG diharapkan terus berjalan sesuai standar keamanan pangan dan memberikan manfaat maksimal bagi para penerima.

Kategori :