Angka tersebut menunjukkan bahan bakar ringan di permukaan tanah, seperti alang-alang dan dedaunan, berada dalam kondisi kering sehingga mudah terbakar.
Buol menjadi wilayah dengan nilai FFMC tertinggi, yakni mencapai 92 pada 15 Agustus. Selanjutnya terdapat Parigi Moutong, Poso, dan Banggai Laut yang masing-masing mencapai nilai 91.
Sementara itu, indikator Fire Weather Index (FWI), yang menggambarkan potensi intensitas api apabila kebakaran terjadi, menunjukkan angka tertinggi di Banggai Laut dengan nilai 30. Banggai Kepulauan berada di posisi berikutnya dengan nilai 29.
Banggai mencatat FWI sebesar 24, sementara Buol dan Poso masing-masing 22. Tojo Una-Una berada pada angka 21, Morowali 19, dan Tolitoli 17.
Adapun Morowali Utara, Palu, Donggala, Parigi Moutong, serta Sigi masing-masing mencatat nilai FWI 15.
BMKG meminta seluruh pihak tidak menganggap remeh kondisi tersebut. Kesiapsiagaan sejak dini dinilai penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.